Nama Okita Souji (沖田総司) sering dikenang sebagai pendekar jenius Shinsengumi yang gugur muda karena penyakit. Namun di balik citra pendekar dingin dan mematikan, terdapat sisi manusiawi, kisah pilu, dan fakta-fakta tersembunyi yang jarang dibahas dalam buku sejarah populer maupun anime.
Artikel ini akan mengungkap kisah Okita Souji yang mungkin belum pernah kita dengar—lebih dalam, lebih manusiawi, dan lebih menyentuh.
Siapa Sebenarnya Okita Souji?
Okita Souji adalah kapten unit pertama Shinsengumi, pasukan polisi khusus di Kyoto pada akhir zaman Edo. Ia dikenal sebagai pendekar pedang berbakat luar biasa, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu yang terkuat di zamannya.
Namun yang jarang diketahui, Okita bukanlah samurai dari keluarga terpandang. Ia tumbuh dari latar belakang sederhana dan mengandalkan bakat serta disiplin keras untuk mencapai posisinya.
Okita Souji: Pendekar yang Sering Tertawa
Berbeda dari gambaran serius dalam film dan anime, catatan sejarah menunjukkan bahwa:
- Okita Souji dikenal ceria dan suka bercanda
- Ia gemar bermain dengan anak-anak di lingkungan dojo
- Rekan-rekannya menyebut Okita sebagai pribadi yang ringan tangan membantu orang lain
Bahkan Hijikata Toshizo, wakil komandan Shinsengumi, pernah menyebut Okita sebagai:
“Pedang yang tajam, tetapi hati yang lembut.”
Sisi ini jarang ditampilkan dalam narasi heroik Shinsengumi.
Teknik Pedang Rahasia: Sandanzuki yang Mematikan
Okita Souji adalah pengguna teknik legendaris Sandanzuki (三段突き), serangan tusukan tiga arah yang hampir mustahil dihindari.
Namun fakta menariknya:
- Teknik ini sangat membebani fisik
- Membutuhkan paru-paru dan stamina yang kuat
- Diduga mempercepat kondisi kesehatannya yang rapuh
Beberapa sejarawan percaya bahwa Okita memaksakan diri bertarung meski sudah sakit, demi melindungi Shinsengumi.
Penyakit yang Disembunyikan
Fakta yang jarang dibahas adalah bahwa Okita Souji menyembunyikan penyakitnya dari banyak orang.
- Ia menderita tuberkulosis (TBC)
- Sering batuk darah, namun tetap ikut bertugas
- Baru dipensiunkan setelah kondisinya benar-benar memburuk
Dalam budaya samurai, menunjukkan kelemahan dianggap aib, dan Okita memilih diam, meski itu memperpendek hidupnya.
Tidak Gugur di Medan Perang
Berbeda dengan banyak legenda samurai, Okita Souji tidak gugur dalam pertempuran besar.
- Ia wafat pada usia sekitar 24–25 tahun
- Meninggal di tempat perawatan, jauh dari medan perang
- Tidak sempat melihat runtuhnya Shinsengumi
Ironisnya, salah satu pendekar terkuat Jepang justru dikalahkan oleh penyakit, bukan pedang musuh.
Okita Souji dan Rasa Takut akan Kematian
Catatan pribadi dan kesaksian rekan menyebutkan bahwa Okita:
- Takut mati muda
- Pernah berkata ingin hidup normal setelah era perang
- Ingin melihat Jepang yang damai
Ini sangat kontras dengan gambaran samurai tanpa rasa takut. Okita adalah manusia—berani, tetapi juga rapuh.
Mengapa Kisah Ini Jarang Diceritakan?
Ada beberapa alasan mengapa sisi ini jarang diungkap:
- Sejarah sering memuliakan kematian heroik
- Penyakit dianggap kelemahan pada era samurai
- Media modern lebih menyukai karakter “sempurna”
Padahal, justru ketidaksempurnaan Okita Souji-lah yang membuatnya begitu manusiawi dan dikenang.
Warisan Okita Souji Hari Ini
Hingga kini, Okita Souji tetap hidup dalam:
- Anime & manga Jepang
- Novel sejarah
- Game dan budaya pop
- Dojo Kendo sebagai simbol kecepatan & teknik
Ia dikenang bukan hanya sebagai pendekar, tetapi sebagai simbol pengorbanan generasi muda di masa perubahan Jepang.
Kesimpulan
Kisah Okita Souji yang mungkin belum pernah kita dengar adalah kisah tentang:
- Bakat luar biasa
- Senyum di balik pedang
- Ketakutan manusiawi
- Pengorbanan tanpa sempat menikmati damai
Ia bukan hanya legenda Shinsengumi, tetapi cermin manusia yang hidup di era paling keras Jepang.

Kendoka, Malang, Jawa Timur, Indonesia





