Kiprah Okita Soji di Shinsengumi: Pedang Tercepat, Hati yang Tetap Manusiawi

Artikel Profil Sejarah
kiprah okita soji di shinsengumi
kiprah okita soji di shinsengumi

Okita Soji tidak pernah bergabung dengan Shinsengumi untuk mencari ketenaran. Ketika kelompok itu mulai dikenal dan ditakuti di Kyoto, ia sudah berada di dalamnya—sejak masih berupa kumpulan kecil samurai dari dojo Shieikan yang setia pada gurunya, Kondō Isami. Bagi Okita, Shinsengumi bukan sekadar pasukan, melainkan keluarga yang tumbuh bersamanya sejak masa muda.

Sejak awal kiprahnya, Okita segera menonjol. Ia ditugaskan sebagai kapten unit pertama, posisi yang menempatkannya di garis depan setiap operasi penting. Dalam setiap patroli malam di jalanan Kyoto, kehadiran Okita memberi rasa aman bagi rekan-rekannya. Gerakannya cepat, senyap, dan tanpa ragu. Banyak lawan jatuh sebelum sempat memahami apa yang terjadi. Kontribusi terbesarnya bukan hanya jumlah musuh yang ia kalahkan, tetapi kemampuannya menyelesaikan konflik dengan cepat, mengurangi kekacauan yang bisa membahayakan warga sipil.

Puncak perannya terlihat jelas dalam Insiden Ikedaya. Saat Shinsengumi menyerbu penginapan tempat berkumpulnya kelompok anti-shogun, Okita berada di barisan terdepan. Catatan sejarah menyebutkan bahwa serangannya sangat menentukan jalannya pertempuran. Dalam ruang sempit dan gelap, kecepatan Okita menjadi senjata utama. Namun di malam yang sama, tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan serius. Ia pingsan di tengah kemenangan—sebuah pertanda bahwa waktu tidak berpihak padanya.

Meski dikenal sebagai pendekar paling mematikan, Okita justru menjadi sosok yang paling manusiawi di dalam Shinsengumi. Ia sering terlihat tersenyum, bercanda ringan, dan berbicara santai dengan anggota lain, terutama yang lebih muda. Di tengah ketegangan hidup sebagai samurai Bakumatsu, kehadiran Okita menjadi penyeimbang. Banyak anggota merasa lebih tenang saat bertugas bersamanya.

Hubungannya dengan Kondō Isami sangat dalam. Kondō bukan hanya pemimpin, melainkan figur ayah yang memberi arah hidup bagi Okita sejak kecil. Kesetiaan Okita pada Shinsengumi sejatinya adalah kesetiaan pada Kondō. Ia mengikuti perintah tanpa ragu, bukan karena kewajiban, tetapi karena kepercayaan penuh.

Dengan Hijikata Toshizō, Okita memiliki hubungan yang unik. Hijikata dikenal keras, dingin, dan tanpa kompromi. Okita adalah kebalikannya—lembut dalam sikap, namun sama tegasnya saat bertarung. Keduanya jarang menunjukkan keakraban secara terbuka, tetapi saling memahami peran masing-masing. Hijikata tahu, selama Okita berada di garis depan, operasi akan berjalan cepat dan efektif.

Nagakura Shinpachi mengenang Okita sebagai sahabat yang penuh canda. Bersama Nagakura, Okita sering tertawa, berbagi cerita ringan, bahkan di sela-sela tugas berbahaya. Namun ketika pedang terhunus, Okita berubah total. Kontras inilah yang membuat banyak anggota Shinsengumi sulit melupakan sosoknya.

Sementara dengan Saitō Hajime, hubungan mereka lebih tenang dan profesional. Keduanya jarang berbicara panjang, namun saling menghormati kemampuan satu sama lain. Mereka adalah tipe pendekar yang tidak perlu banyak kata untuk saling mengerti.

Seiring penyakitnya semakin parah, kiprah Okita di medan tempur mulai berkurang. Namun pengaruhnya tetap terasa. Ia menjadi simbol masa kejayaan Shinsengumi—masa ketika keberanian, kecepatan, dan kesetiaan masih mampu menahan runtuhnya sebuah zaman. Bahkan ketika tubuhnya melemah, namanya tetap disebut dengan rasa hormat oleh rekan-rekannya.

Okita Soji mungkin tidak hidup lama, tetapi kontribusinya meninggalkan jejak yang dalam. Ia bukan hanya pedang tercepat Shinsengumi, melainkan juga hati yang menjaga keseimbangan di tengah kerasnya dunia samurai. Dalam sejarah yang dipenuhi darah dan pengkhianatan, Okita dikenang sebagai pengingat bahwa bahkan di masa paling gelap sekalipun, kemanusiaan masih bisa bertahan.

Referensi dan Sumber Sejarah

  • Shinsengumi Tenmatsuki – Nagakura Shinpachi
  • Okita Sōji-den (Biografi Okita Sōji)
  • Shinsengumi no Seishin-shi – Kikuchi Akira
  • Arsip sejarah Tennen Rishin-ryū
  • NHK Japan Historical Archives
Sun

Kendoka, Malang, Jawa Timur, Indonesia

http://kendo.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.