Hari-Hari Terakhir Okita Soji: Wafatnya Sang Pedang Tercepat Shinsengumi

Artikel Profil Sejarah
Hari-Hari Terakhir Okita Soji
Hari-Hari Terakhir Okita Soji

Hari-hari terakhir Okita Soji berlalu jauh dari hiruk-pikuk medan pertempuran yang pernah ia kuasai. Tubuh yang dahulu bergerak secepat kilat kini semakin sering mengkhianatinya. Setelah Insiden Ikedaya, penyakit yang selama ini tersembunyi mulai menampakkan wujud aslinya. Batuk tak kunjung reda, napas menjadi pendek, dan darah kerap muncul di sapu tangan yang ia sembunyikan dari rekan-rekannya.

Bagi seorang samurai Shinsengumi, ketidakmampuan bertarung adalah penderitaan tersendiri. Okita menyadari itu. Ia tahu pedangnya tidak lagi bisa diandalkan seperti dulu, namun semangatnya belum padam. Selama masih mampu berdiri, ia tetap mengenakan pakaian latihan, meski hanya untuk menyaksikan rekan-rekannya berlatih dari kejauhan. Dojo yang dulu menjadi dunianya kini terasa semakin jauh.

Penyakit yang dideritanya—yang kini diyakini sebagai tuberkulosis—perlahan memaksanya mundur dari garis depan. Okita dipindahkan ke tempat yang lebih tenang agar dapat beristirahat. Di sana, ia menghabiskan hari-harinya dengan membaca, menulis singkat, dan berbincang pelan dengan orang-orang terdekat. Senyum masih sering muncul di wajahnya, seolah ia menolak menunjukkan rasa sakit yang kian menggerogoti tubuhnya.

Kondō Isami beberapa kali menjenguknya. Hubungan guru dan murid itu berubah menjadi hubungan dua orang yang saling memahami bahwa waktu tidak lagi berpihak. Tak banyak kata diucapkan. Bagi keduanya, kehadiran saja sudah cukup. Hijikata Toshizō, yang dikenal dingin dan keras, dikabarkan juga menyimpan kesedihan mendalam. Ia kehilangan bukan hanya seorang kapten, tetapi pilar penting Shinsengumi.

Sementara itu, Kyoto terus bergolak. Pertempuran dan intrik politik tak berhenti hanya karena seorang pendekar jatuh sakit. Okita menyadari Shinsengumi harus berjalan tanpa dirinya. Ia menerima kenyataan itu dengan ketenangan yang mengagumkan—seolah sejak awal ia telah memahami bahwa hidupnya akan singkat.

Tahun 1868, di usia yang masih sangat muda—sekitar 24 atau 26 tahun—Okita Soji menghembuskan napas terakhirnya. Tidak di medan perang, tidak dengan pedang di tangan, melainkan dalam sunyi, ditemani orang-orang yang peduli padanya. Wafatnya terjadi di tengah runtuhnya Keshogunan Tokugawa, seakan hidupnya padam bersamaan dengan berakhirnya sebuah zaman.

Kematian Okita tidak disertai kemegahan. Tidak ada perayaan, tidak ada catatan kemenangan terakhir. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia dikenang bukan karena cara ia mati, melainkan karena cara ia hidup—setia pada gurunya, tulus pada rekan-rekannya, dan jujur pada jalan pedang yang ia pilih sejak kecil.

Bagi Shinsengumi, kepergian Okita adalah kehilangan yang sunyi namun dalam. Banyak yang percaya bahwa sejak hari itu, Shinsengumi tak pernah benar-benar sama. Pedang tercepat mereka telah pergi, meninggalkan kenangan tentang seorang pendekar muda yang lembut hatinya, namun tak tertandingi ketajamannya.

Okita Soji tidak hidup cukup lama untuk melihat akhir konflik yang melanda Jepang. Namun namanya bertahan melampaui zaman. Dalam setiap kisah tentang Shinsengumi, ia selalu hadir—sebagai pengingat bahwa bahkan di tengah kekerasan dan kehancuran, ada sosok yang memilih menjalani hidup dengan kesetiaan, keberanian, dan senyum yang tenang.

Referensi dan Sumber Sejarah

  • Shinsengumi Tenmatsuki – Nagakura Shinpachi
  • Okita Sōji-den (Biografi Okita Sōji)
  • Shinsengumi no Seishin-shi – Kikuchi Akira
  • Arsip sejarah Tennen Rishin-ryū
  • NHK Japan Historical Archives
Sun

Kendoka, Malang, Jawa Timur, Indonesia

http://kendo.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.