Samurai Wanita dalam Sejarah Jepang: Jejak Keberanian Onna-Bugeisha yang Terlupakan

Artikel Sejarah

Dalam imajinasi populer, samurai sering digambarkan sebagai laki-laki bersenjata pedang, mengenakan zirah berat, dan hidup menurut kode kehormatan. Namun sejarah Jepang menyimpan kisah lain yang tak kalah heroik: keberadaan samurai wanita, atau yang dikenal sebagai Onna-bugeisha. Mereka bukan sekadar pendamping, melainkan pejuang terlatih yang ikut mempertahankan klan, wilayah, dan kehormatan keluarga.

Artikel ini akan mengulas secara mendalam tokoh-tokoh samurai wanita paling terkenal, konteks sejarah kemunculan mereka, serta bagaimana warisan mereka masih terasa dalam budaya Jepang modern.


Siapa Itu Onna-Bugeisha?

Onna-bugeisha adalah perempuan dari kelas samurai yang menerima pelatihan bela diri. Mereka hidup dalam sistem feodal Jepang yang menjunjung tinggi kehormatan dan loyalitas terhadap tuan (daimyo).

Berbeda dari stereotip perempuan bangsawan yang hanya tinggal di rumah, onna-bugeisha dilatih menggunakan berbagai senjata, terutama:

  • Naginata (tombak panjang dengan bilah melengkung)
  • Kaiken (belati pendek untuk pertahanan diri)
  • Busur dan panah

Dalam situasi perang, terutama ketika para pria bertempur di luar wilayah, perempuan samurai bertugas mempertahankan kastil dan rumah tangga klan dari serangan musuh.


Tokoh Samurai Wanita Terkenal

1) Tomoe Gozen – Legenda Perang Genpei

https://data.ukiyo-e.org/mfa/images/sc147562.jpg
https://www.mediastorehouse.co.uk/p/731/tomoe-gozen-killing-uchida-saburo-ieyoshi-battle-26372721.jpg.webp
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/48/Tomoe-Gozen.jpg/960px-Tomoe-Gozen.jpg

4

Nama Tomoe Gozen muncul dalam kisah epik Heike Monogatari, yang menceritakan Perang Genpei (1180–1185) antara klan Taira dan Minamoto.

Ia bertempur di bawah pimpinan Minamoto no Yoshinaka dan digambarkan sebagai:

  • Pemanah ulung
  • Ahli berkuda
  • Pendekar pedang yang mampu memenggal kepala musuh

Dalam Pertempuran Awazu (1184), Tomoe disebut bertarung dengan keberanian luar biasa sebelum akhirnya menghilang dari catatan sejarah. Sebagian sumber menyebut ia gugur, sementara legenda lain mengatakan ia selamat dan menjalani kehidupan sebagai biarawati.

Meskipun kisahnya bercampur antara fakta dan sastra, Tomoe Gozen menjadi simbol keberanian perempuan dalam sejarah Jepang.


2) Hangaku Gozen – Pemimpin 3.000 Pasukan

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/71/Hangaku_Gozen_by_Yoshitoshi.jpg
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/71/Hangaku_Gozen_by_Yoshitoshi.jpg/960px-Hangaku_Gozen_by_Yoshitoshi.jpg
https://i.pinimg.com/564x/d6/ae/8e/d6ae8ebd160bfb5a5e8a66e91c7986d9.jpg

4

Hangaku Gozen hidup pada akhir periode Heian dan awal Kamakura. Ia dikenal karena memimpin sekitar 3.000 pasukan dalam Pemberontakan Kennin (1201).

Saat kastilnya diserang, ia mempertahankan benteng dengan panah dari menara pertahanan. Meski akhirnya tertangkap setelah terluka, keberaniannya membuat musuh menghormatinya.

Hangaku adalah contoh nyata bahwa perempuan tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin pasukan di medan perang.


3) Hojo Masako – “Biara Shogun” yang Mengendalikan Kekuasaan

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f5/Hojo_Masako.jpg
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f6/Heiji_Monogatari_Emaki_-_Sanjo_scroll_part_5_-_v2.jpg
https://www.fujiarts.com/japanese-prints/k434/271k434f.jpg

4

Jika Tomoe dan Hangaku dikenal lewat pedang, Hojo Masako menunjukkan bahwa kekuatan bisa hadir melalui politik.

Istri Minamoto no Yoritomo (pendiri Keshogunan Kamakura), Masako memainkan peran penting setelah wafatnya suaminya. Ia membantu mengendalikan pemerintahan melalui klan Hojo dan mendapat julukan “Ama Shogun” (Biarawati Shogun).

Walau tidak selalu bertarung di garis depan, pengaruh politiknya sangat besar dalam mempertahankan stabilitas kekuasaan militer Jepang pada abad ke-13.


4) Nakano Takeko – Pahlawan Perang Boshin

https://www.laps.fr/img/cms/Blog/Nakano/onnn-ab.jpg
https://www.laps.fr/img/cms/Blog/Nakano/onna.jpg
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/94/Onna_bugeisha_Ishi-jo%2C_wife_of_Oboshi_Yoshio.jpg

4

Nakano Takeko adalah salah satu samurai wanita terakhir dalam sejarah Jepang feodal. Ia bertempur dalam Perang Boshin (1868–1869), konflik yang mengakhiri kekuasaan shogun dan memulai era modern Jepang.

Ia memimpin unit perempuan yang dikenal sebagai Joshitai dalam Pertempuran Aizu. Saat tertembak, ia meminta saudarinya untuk memenggal kepalanya agar tidak dijadikan trofi musuh—tindakan yang mencerminkan nilai kehormatan samurai.

Nakano Takeko gugur pada usia 21 tahun dan kini dikenang sebagai simbol keberanian perempuan Jepang.


Senjata dan Latihan Samurai Wanita

https://espadasymas.com/cdn/shop/articles/imagen_2025-09-26_060752107.png?v=1758877818&width=1500
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/57/Kaiken_or_kwaiken_tanto.jpg
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/94/Onna_bugeisha_Ishi-jo%2C_wife_of_Oboshi_Yoshio.jpg

4

Senjata utama onna-bugeisha adalah naginata, karena:

  • Jangkauannya panjang
  • Efektif melawan kavaleri
  • Cocok untuk pertahanan jarak menengah

Selain itu, perempuan samurai juga membawa kaiken untuk perlindungan pribadi. Pelatihan bela diri menjadi bagian dari pendidikan perempuan kelas samurai, terutama pada masa perang yang sering terjadi di periode Heian dan Kamakura.


Mengapa Peran Samurai Wanita Menurun?

Memasuki Edo period, Jepang mengalami stabilitas panjang di bawah Keshogunan Tokugawa. Minimnya peperangan membuat peran militer perempuan berkurang.

Perempuan samurai lebih difokuskan pada:

  • Pendidikan moral keluarga
  • Manajemen rumah tangga klan
  • Pelestarian nilai kehormatan

Namun bukti arkeologis modern menunjukkan bahwa sekitar 30% jasad di beberapa medan perang feodal ternyata milik perempuan—membantah anggapan bahwa mereka jarang terlibat pertempuran.


Warisan Samurai Wanita dalam Budaya Modern

Figur samurai wanita kini sering muncul dalam:

  • Film dan drama sejarah Jepang (taiga drama)
  • Anime dan manga bertema samurai
  • Festival sejarah di Aizu dan wilayah lain

Tokoh seperti Tomoe Gozen menjadi simbol kekuatan perempuan dalam budaya populer global.

Di era modern, semangat onna-bugeisha tercermin dalam partisipasi perempuan Jepang dalam seni bela diri seperti kendo, judo, dan naginata-do.


Kesimpulan

Samurai wanita bukan mitos. Mereka adalah bagian nyata dari sejarah Jepang—pejuang, pemimpin, dan simbol kehormatan.

Dari medan Perang Genpei hingga runtuhnya keshogunan pada abad ke-19, onna-bugeisha menunjukkan bahwa keberanian tidak mengenal gender. Meski peran mereka sempat terpinggirkan dalam narasi sejarah arus utama, penelitian modern dan minat budaya populer membantu mengangkat kembali kisah mereka.

Warisan mereka hidup dalam semangat disiplin, keberanian, dan kehormatan—nilai yang tetap relevan hingga hari ini.

Sun

Kendoka, Malang, Jawa Timur, Indonesia

http://kendo.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.